Minggu, 04 Juni 2017

Konigswinter, Germany yang Mempesona



Konigswinter sebenarnya tidak terlalu jauh dari Bonn.. namun terpisahkan oleh sungai Rhain. Dan untuk sampai ke Konigswinter dari Stasiun Bonn HBF hanya sekitar 30 menit saja. 

Dan betapa bagusnya pemandangan di Konigswinter... di sebelah kanan kita bisa melihat sungai rhain dan di sebelah kiri kita bisa lihat bangunan-bangunan antik dan "eropa banget" hehe....



Pokoknya kalau jalan-jalan ke bonn kayanya rugi sekali kalau tidak mampir ke konigswinter... bagus sekali untuk foto-foto alias instagramable.... hehe...

Pada saat saya kesana sore hari pukul 6 sore, matahari terik sekali. Banyak yang duduk-duduk di pinggir sungai Rhain, ada yang bawa anak, bawa pasangan, dan bawa binatang peliharaan. Ada yang hanya duduk-duduk mengobrol dan banyak juga yang berolahraga, baik lari maupun bersepeda... pokoknya bagaikan kota impian di negeri dongeng yang tenang dan damai... andai saya bawa pasangan pasti perfect sekali... hehe
masa kalo kaya gini gak tergoda jalan sih... hehe
Ternyata Konigswinter terkenal dengan kastilnya... untuk ke kastil kita harus naik kereta seperti ke puncak... sebeneranya gak pakai kereta gak apa-apa sih... bisa sebagai olahraga kaya hiking gitu dan bisa memakan waktu 1 jam untuk naik keatasnya... tapi kan  namanya orang Indonesia, ya mending naik kereta lah ya... harga keretanya 10 euro untuk pulang pergi.  Kastilnya sendiri biasa aja... haha... cuma bangunan tinggi doang... sepertinya disana terkenal dengan legenda naganya... cari-cari cerita legenda tersebut di google, kebanyakan pake bahasa jerman, gak ngerti saya...


Dan memang jalananan nya menanjak begitu curam...


kalo pemandangannya begini, gak rugi lah ngedaki dengan menguras tenaga...

Sayang foto castilnya gak ada yg bagus. Nah selain bisa melihat bonn dari atas, ada juga castil lain yang bisa dikunjungi namany schloos Drachenburg. Seperti sebuah sekolah (untuk naga terbangkah?? gak tau deh... soalnya saya gak ada guide jadi gak ngerti tentang legenda-legenda yang ada).
Sayangnya untuk ke dalam sana bayar lagi 7 euro... ih males banget kan... 
Jadi saya gak masuk kedalam, tapi gak rugi kalau bisa lihat pemandangan sebagus ini:







Bagus kan...

Belum bisa move on... malah pengen hijrah ke sana... hehe... di jakarta penuh ke stress-an... tapi kalo tinggal disana kan belum tentu seindah kelihatannya... 

Rabu, 24 Mei 2017

Bonn, Kota Multikultur yang Bersahaja (Part 2)

Setelah mendapat penginapan yang memuaskan, saya juga terkagum-kagum dengan orang-orang disana. 

Saya awalnya sangat paranoid, takut mendapat perlakuan rasis karena saya berhijab... dan ternyata disana bukan hal aneh melihat wanita-wanita berhijab. Daerah bad godensberg tempat saya menginap di Kota Bonn ini banyak orang-orang imigran dari timur tengah. So, saya merasa save untuk jalan sendiri (yang awalnya saya ragu banget). Dan ditambah banyak tempat makan turki yang tentu saja halal. Tapi ya harganya lumayan lah... makanya kalo mukim di sana mending sering-sering masak lah... bangkrut juga kalo jajan melulu. 


Nasi Goreng + Ayam di Zentrum Bonn
Nasi ini gak gitu enak, nasi gorengnya rasa saus tomat dan ayamnya asin banget... hehe beli di Zentrum, di Bonn. Harganya gak tau deh, karena ditraktir... hehe


nasi+ayam turki
Yang ini baru enak, ayamnya besar dan lembut. Nasinya juga rasa nasi goreng yang gak gitu aneh. Belinya di daerah Koln, dekat katedral Koln... harga satu porsi itu 10 euro ya kalo dikali Rp 15 ribu ya 150 ribu lah ya... hehe... (dan makannya tetep dengan abon cabe)...

Jerman ternyata tak se asing yang saya pikirkan setidaknya banyak muslim disana.... Saya sempat tersasar, dan betapa baiknya ketika saya bertanya dengan seorang wanita berjilbab keturunan Irak yang mengantar saya hingga ketujuan, meski cuma naik tangga aja sih... hehe..

Ada beberapa kultur yang bikin saya shock disana... tapi bukan karena shock ngeri, tapi shock karena kagum, diantaranya yang saya ingat:

  1. ketika perlintasan kereta tertutup yang artinya kereta mau datang. Gak pake bunyi apa-apa (kalo di Indonesia kan ting tong-ting tong) dan mobil-mobil berhenti... dan biasanya plannya ketutup lumayan lama, maka si mobil mematikan mesinnya... sunyi sepi deh... amazing... 
  2. Di jerman, anjing besar-besar biasa terlihat dibawa jalan-jalan dan bahkan masuk kereta or busnya... dan tiketnya juga beli lho untuk binatang peliharaan.... 
  3. Pada saat saya ke jerman, magrib baru jam setengah 10 malam, jadi sampai jam 8 malem pun masih terang benderang... eh di samping hotel sebuah keluarga makan malam di kebun... so sweet banget... (padahal di Indonesia juga banyak haha... )
  4. Kalo kita nyebrang di zebra cross, meski gak ada lampu lalu lintas, mobil akan mempersilahkan kita nyebrang dulu lho.... bukannya di klaksonin kaya di sini sambil diteriakin "matanya kemana!!!" haha...
  5. Transportasinya nyaman dan tepat waktu... gak ada macet (orangnya dikit kali ya), pernah kereta bermasalah langsung pindah jalur dan gak gitu lama penyelesaiannya... dan sepenuh-penuhnya kereta disana tetap tertib dan gak rempong kaya di Jakarta...
  6. Air bisa minum langsung dari kran washtafel kamar mandi... awalnya sempet ragu langsung minum, jadi nanya dulu ke owner hotelnya dan dia langsung bilang kalo jerman salah satu negara yg punya air paling bagus... 



Bonn, Kota Multikultur yang Bersahaja (Part 1)

Dimanakah Bonn???

Bonn merupakan nama salah satu kota di jerman. Memang Bonn tidaklah seterkenal Berlin, Munich, atau Frankfurt. Namun Bonn mempunyai sejarah yang tidak bisa dilupakan.
Terletak di tepian sungai Rhein, Bonn sempat menjadi ibukota Jerman Barat sejak tahun 1949 sampai dengan 1990 dan menjadi pusat pemerintahan setelah bersatunya Jerman dari tahun 1990 s.d 1999. 

Pada pertengahan Mei 2017 kemarin, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bonn dan tinggal selama 7 malam. Dan kesan saya sangat mendalam (maklum lah norak karena baru sekali ke Eropa... hehe).. 

Karena hanya 7 malam, pandangan-pandangan yang saya jabarkan mengenai kota Bonn mungkin absurd dan gak sesuai dengan pandangan mereka-mereka yang harus tinggal dan mukim disana. Saya kesana untuk menghadiri konferensi perubahan iklim UNFCCC. 

Jadi bagaimana kesan saya?

Saya sangat terkesan dengan kebersahajaan kota ini. Saya menginap di daerah Bad Godensberg.

kalau di peta terletak di sebelah selatan. Dan Alhamdulillah saya mendapat penginapan yang tidak mengecewakan. Saya sangat galau mengenai penginapan ini, awal mula saya membooking sebuah penginapan bernama 
A&S Ferienwohnungen Roonstra├če , meski testimoninya lumayan bagus, ada ganjalan karena saya harus sharing kamar mandi... Harga memang murah sekali, tapi saya berfikir bagi perempuan berhijab dan harus menginap sendirian, bagaimana bisa saya sharing kamar mandi, bahkan dengan kondisi teman-teman penginapan yang saya tidak tahu sama sekali (ditambah tengah malam saya suka terbangun untuk buang air kecil... serem lah... hehe). Hingga detik-detik akhir saya sangat galau sekali, tiap hari saya cek web booking.com dan penginapan yang ada tinggal yang mahal-mahal saja (event UNFCCC mungkin yang membuat hampir semua penginapan di kota bonn penuh semua, maklumlah dari seluruh penjuru dunia hadir, bahkan ada dari negara-negara yang saya belum pernah dengar namanya).

Hingga akhirnya doa saya terkabul, muncul di web hotel yang lokasinya memang saya mau, dan harga meski agak mahal masih reasonable lah.... tanpa buang waktu saya langsung mem-booking. dan saya jatuh cinta dengan penginapan ini. Namanya Villa Flora Hotel. Bisa di cek foto-fotonya di booking.com, karena saya lupa untuk memfotonya. 

Meski penginapannya terletak jauh di dalam komplek perumahan dan sulit mengakses supermarket or tempat makan, namun saya suka sekali lingkungannya. Sangat damai.... Untuk ke stasiun saya harus berjalan kurang lebih 800 meter. But It's ok, karena ngelewatin rumah-rumah bergaya jerman, yang bikin saya pengen ngintip-ngintip ke dalam. 

Penginapannya memang seperti bangunan lama. Awal saya masuk sepertinya kok seram, kaya film-film vampire gitu deh... hehe... tapi ternyata pas di kamar saya merasa homy banget... dan saya gak takut jg kok... Bersih soalnya, dan dapat sarapan pagi yang lumayan sehat seperti roti dan sereal, ada juga sih ham-ham an tapi saya gak mau makan lah karena gak halal. So bagi yang masih bingung cari penginapan di daerah bonn terutama sekitar bad godensberg, silahkan cek melalui booking.com Villa Flora Hotel. Kamarnya cuma sedikit, katanya cuma 9 apa 8 kamar gitu... kayanya sih bekas rumah cuma di re-build jadi penginapan semi hotel gitu... 
Kalo jalannya begini siapa yang gak betah jalan kaki
pengen tinggal disitu kan...
taman kompleknya...