Senin, 20 November 2017

Review Drama Korea - Because This Is My First Life: Cerita Kawin Kontrak yang Bikin Baper



Ide cerita kawin kontrak memang gak pernah lekang oleh waktu ya... Dan tentu bikin banyak orang seneng dan baper.... sudah banyak Drama korea yang mengambil ide kawin kontrak or yang gak berdasarkan cinta seperti Full house, Princess Hour, Marriage not dating, Mary Stayed out all night, dan sepertinya masih banyak lagi yang belum saya tonton...

Nah satu lagi di tahun 2017 ini ide kawin kontrak dituangkan dalam Drama korea yang berjudul "Because This In My First Life".

Diceritakan bahwa Yoon Ji Hoo merupakan seorang asisten penulis yang gak berhasil-berhasil dalam hidupnya. Harus keluar dari rumahnya karena si adik ternyata udah menikah, dan dia merasa gak nyaman untuk tinggal bareng sama adiknya yang baru menikah. Dalam kondisi gak punya uang banyak, Ji Hoo harus mencari tempat tinggal baru.  


Jung So Min sebagai Yoon Ji Hoo

Sementara itu, Nam Se Hee adalah seorang designer IT yang mukanya lempeeeng banget... Kaya gak punya emosi. Senyum juga cuma bisa 1 cm... Dan dipikirannya cuma ada cicilan rumah yang lunas di tahun 2048 dan kucing yang dinamakan juga dengan nama "kucing" (memang aneeeh). 

Nam se Hee mencari penyewa kamar dirumahnya untuk membantu dia bayar cicilan rumah. Nah sebelumnya si penyewa rumah adalah tukang mabok (bahkan pipis dalem kulkas... ihh amit-amit), makanya diusir dan Nam Se Hee pengen segera cari penyewa yang lain yang bersedia sama-sama ngerawat rumah itu juga dan tentu meringankan cicilan dia... 


Lee Min Ki sebagai Nam Se Hee
Singkat cerita penyewa baru di rumah Nam Se Hee adalah Ji Hoo. Awal-awal Nam Se Hee gak tau kalo penyewa rumahnya adalah wanita begitu juga Ji Hoo gak tau kalau tuan rumahnya laki-laki. Nam Se Hee seneng banget, karena Ji hoo suka bersih-bersih dan mau ngasih makan kucingnya... apalagi jago memilah-milah sampah...

Budaya Korea masih mirip-mirip lah sama Indonesia, tinggal serumah dengan lawan jenis tuh enggak bangeet... Nam Se Hee pertentangan batin karena udah merasa cocook banget sama Ji Hoo... bahkan menurut analisis (menggunakan chart dan algoritma... Haha), Ji hoo merupakan penyewa dengan nilai paling tinggi... Selain itu, Nam Se Hee juga didesak-desak nikah sama ibunya... makanya dengan kondisi begitu, demi terbebas dari tekanan ibunya buat ikut kencan buta, di ajak nikah lah Ji Hoo... cara pas ngajak nikahnya lucu bangeet...haha..

Mereka nikah bukan karena cinta... tapi karena yang satu butuh seorang penyewa buat bayar cicilan, dan yang satu emang cuma butuh kamar yang nyaman dengan biaya murah...

Disinilah kisah romantisnya bermula... dan bikin baper... memang udah bisa ditebaklah ya... tapi lucu proses mereka yang mulai saling suka-suka an...

Disini saya jatuh cinta sama dua karakter baik laki-lakinya maupun perempuannya... 

Nam Se Hee digambarkan pinter banget.... bahkan bosnya aja sampe takut dan gak bisa ngatur dia... haha.... sementara Ji Hoo bukan cewe yang cengeng... meski nasibnya jelek, gak nelangsa-nelangsa banget... dan tetap kuat dan tangguh... 

Sampai saya tulis ini, episode tayang sudah 12 dengan durasi tiap episodenya 1 jam... dan saya sukaa... saya kasih nilai 4,5 bintang dari 5 untuk drama ini... 




Review Drama Korea - While You Were Sleeping: Ketika Mimpi jadi Kenyataan



Drama korea ini sudah heboh dari awal. Alasannya ya karena mempertemukan dua bintang yang sedang naik daun. Siapa lagi kalau bukan Bae Suzy dan Lee Jong Suk.


Di episode awal digambarkan Nam Hong Joo yang diperankan Bae Suzy bermimpi tiba-tiba memeluk laki-laki tak dikenal. Dan ternyata laki-laki itu adalah Jung Jae Chan yang diperankan oleh Lee Jong Suk. 

Jadi ternyata Nam Hong Joo memiliki kemampuan dimana mimpi-mimpinya menjadi kenyataan. Kebanyakan mimpinya tentang suatu tragedi yang bisa menyebabkan kematian.



Bae Suzy sebagai Nam Hong Joo

Nam Hong Joo tidak sendirian ternyata Jung Jae Chan juga memiliki kemampuan yang sama. 

Jung Jae Chan berprofesi sebagai jaksa dan Nam Hong Joo bersama-sama mencoba untuk menghentikan terjadinya tragedi di masa depan yang muncul dalam mimpi-mimpi mereka. 


Lee Jong Suk sebagai Jung Jae Chan
Menurut saya ceritanya biasa-biasa saja. Gak terlalu menyentuh di hati. Thrillernya gak bikin deg-degan dan romantismenya gak bikin baper.... jadi nanggung... Apalagi second lead-nya gak digarap habis-habisan sebagai barisan sakit hati yang mengenaskan... haha.. Han Woo Tak yang ternyata naksir sama Nam Hong Joo kurang  greget... jadi udah suka tapi kalah cepat sama Jung Jae Chan.. dan dengan legowo tetap tersenyum manis....


Jung Hae In sebagai Han Woo Tak

Antagonisnya adalah Lee Yoo Beom seorang mantan jaksa yang beralih profesi sebagai pengacara. Antagonisnya juga gak yang frontal... tapi bikin geregetan sih, karena dengan mudah memanipulasi segala sesuatu.

Lee Sang Yoeb sebagai Lee Yoo Beom
Overall, bagi saya drama ini biasa-biasa aja... bahkan empat episode akhir saya males nonton walaupun akhirnya ditonton juga. Bukan drama yang bikin baper... dan juga karakternya gak ada yang bikin jatuh cinta...

Saya kasih nilai 3 dari 5 bintang... 

Rabu, 15 November 2017

Review Film: Critical Elevent


Film Critical Eleven ini merupakan adaptasi dari novel karangan Ika Natassa dengan judul yang sama. Novelnya sendiri saya sih belum baca. Tapi kalau sudah liat filmnya bagi saya sudah cukup, gak kepengen lagi baca novelnya... hehe... menurut saya kalo idenya sama ya udahlah ya udah ngerti juga...

Saya gak nonton film ini di bioskop, tapi melalui aplikasi HOOQ yang giat bekerjasama dengan provider seluler...

Dan Film ini cukup membuat saya menangis... 

Bercerita tentang kisah romantis pertemuan Ale (diperankan Reza Rahardian) dan Anya (diperankan Adinia Wirasti) di pesawat yang kemudian berlanjut hingga ke pelaminan. 

Anya yang mulanya wanita karir mapan, bersedia melepaskan semuanya demi mengikuti suaminya untuk mukim di New York. 

Ale sendiri merupakan pekerja tambang yang harus pergi bekerja di lapang hingga jangka waktu agak lama (gak tau deh, lupa berapa lama... hehe)... Jadi Anya sering ditinggal sendiri di New York, sementara Ale pergi ke tengah laut Meksiko.

Tak beberapa lama, Anya hamil... 

Nah disinilah mulai timbul konflik. Anya santai aja menghadapi kehamilannya, tapi Ale sedikit lebay dan merasa gak tega kalo ninggalin Anya pas hamil untuk kerja lama-lama di tengah laut. 

Ale pun ngajak Anya balik ke Indonesia, agar lebih dekat dengan keluarga, dan agar Ale lebih tenang bekerja. Anya yang sudah menikmati tinggal di NY pun nolak mentah-mentah. Tapi Ale berkeras, hingga akhirnya dengan setengah hati dan mau gak mau, Anya nurut untuk balik ke Indonesia...

Di Indonesia, Anya justru balik kerja lagi... hidup baik- baik saja sampai tiba-tiba bayi yang dikandung anya dinyatakan meningal di usia yang hampir dilahirkan... 

Hal ini tentu aja bikin shock keduanya... dan miris sekali kan... Hubungan mereka teruji, Ale sepertinya menyalahkan Anya karena terlalu sibuk... sementara Anya pun meski gak terima memang merasa itu semua kesalahannya...

Dan hubungan mereka mendingin... (menurut saya karena kurang iman ini haha... toh apa yang belum menjadi rezeki, meski ditangisi sebanyak apapun gak akan jadi milik kita kan...)... 

Dan begitulah... mereka harus berjuang untuk menyelamatkan krisis rumah tangga mereka... Apakah berhasil?? tonton sendiri aja...

Sedih sih nonton ini... saya sampai berurai air mata... ya gimana enggak coba, kalau udah nyiapin apa-apa untuk baby, tau-tau meninggal dalam kandungan... tapi ya gak saling menyalahkan juga kan.... 

Saya kasih nilai 4 dari 5 untuk film ini...



Jumat, 03 November 2017

Resensi Novel: Paris Letters


Judul buku: Paris Letters

Pengarang: Janice Macleod
Halaman: 305
Penerbit: Kompas Gramedia


Well, membuka halaman pertama saya bingung, ini novel kan? Tapi kok nama tokohnya sama seperti pengarangnya. Dan novel ini jauh dari yang saya harapkan. Saya kira novel ini seperti cerita-cerita chicklit atau metropop sejenis karangan Sophie Kinsela, tapi kecewa karena buku ini bercerita pengalaman hidup si Janice saja.


Janice diceritakan sebagai seorang penulis naskah iklan yang cukup mapan. Namun merasa jenuh dan kesal, terutama karena sulitnya meminta izin cuti. 

Di Bab ke-2, diceritakan bahwa ia selalu mengeluh dengan kesehariannya, bekerja dan bekerja (ini saya banget).  

Dalam kejenuhan itu, Janice membiasakan diri menulis buku harian setiap hari setidaknya 3 lembar. Awalnya buku harian itu menulis keluhan-keluhan pekerjaan, hingga akhirnya timbul pertanyaan berapa uang yang harus di tabung untuk dapat berhenti kerja dan jalan-jalan ke Eropa. Di buku inilah Janice menginspirasi bahwa menulis bisa memberikan jawaban atas masalah-masalah yang kita miliki... 

Dan Janice pun memulai menabung, mengurangi makan di luar, membuang atau menjual barang dan pakaian lama. Hingga pada akhirnya tercapailah keinginannya berhenti kerja dan jalan-jalan ke Eropa.

Di Paris dia bertemu dengan penjual daging tampan, tapi sayangnya tidak bisa bahasa inggris. Namun kisah romantis mereka tetap bergulir meski terkendala bahasa (katanya sih justru enak, jadi klo kesel ngomel-ngomel sendiri tapi pasangannya gak ngerti... haha). 

Dan begitulah kisah bergulir. Si Janice pun mempunyai ide untuk menghidupi diri dengan menulis surat pribadi dengan lukisan sudut-sudut kota Paris yang dia jual melalui E-Bay (jujur saya gak punya bayangan kaya apa ini? apa kaya kartu pos gitu kah...).

Kelebihan novel ini sih penggambaran kota Paris yang begitu indah. Saya jadi pengen kesana, padahal selama ini saya dengernya Paris biasa-biasa aja, banyak copet, dll yang negatif, tapi si Janice cukup membuat saya kepengen merasakan kedamaian yang dia gambarkan, seperti berjalan-jalan diantar taman-taman dan melihat pemusik jalanan memainkan musik. 

Dan lagi Janice memberikan motivasi dalam menulis buku harian, bahkan di halaman 284 dia bilang "Menulislah untuk mempelajari hal-hal yang kau ketahui". Yah kadang memang segala yang kita keluhkan, sebenarnya kita sudah punya solusi untuk menghadapinya. 

Memang perjuangan sekali menghabiskan buku ini. 1 bulan saya membacanya, bahkan sempat saya seling dengan buku Agatha Christie. Maklum saya terbiasa membaca buku yang ada konfliknya. Nah buku ini sepertinya datar-datar saja. Bikin bosen tengah jalan. Tapi poin utama yang buat saya bisa menyelesaikan apalagi kalau bukan penggambaran kota Paris nan indah. 

Overall saya cukup suka (apalagi covernya bagus banget) dan saya kasih bintang 3 dari 5 untuk novel ini... 

Selasa, 31 Oktober 2017

Review Drama Korea: Temperature of Love


Oke drama ini pure drama romance. Sebenernya biasanya saya akan mudah bosan tengah jalan. Soalnya isinya cinta-cinta doang. Dan sebenarnya betul deh, ini drama tuh harusnya saya gak suka banget karena tentang cinta segitiga antar pertemanan. Pliz deh dua sahabat harus suka sama satu perempuan tuh menurut saya enggak banget deh...

Tapi oh tapi.... kok saya gak bisa berenti nontonnya ya... kaya ada sesuatu yang magic membuat saya pengen nonton terus, padahal awalnya di 6 episode pertama, saya udah memutuskan, ah ini mah ceritanya ngebosenin... Namun setelah episode ke 10 an, ceritanya makin menarik.

Jadi tentang apa sih nih drama???

Tentang seorang wanita yang bekerja sebagai penulis skenario dan punya idealisme tinggi. Di awal-awal episode terkesan "belagu", haha... pokoknya awal-awal lee hyun soo yang diperankan oleh Seo Hyun Jin (main sebagai oh hae young, udah pernah saya tulis resensinya di sini) sikapnya nyebelin. Ditembak cowo (brondong yang baru 5 jam kenal) nolak, ditawarin kontrak kerja nolak (walau akhirnya mau)... pokoknya sombong deh, padahal hidupnya lagi terpuruk. 
Seo Hyun Jin sebagai Lee Hyun Soo
Aktor utama Prianya adalah On Jung Sun, diperankan oleh Yang Se Jong, berprofesi sebagai Chef. Seru sih ngeliat makanan-makanan yang disajikan. Indah banget makanannya pake hiasan bunga-bunga. 
Berlatar belakang sebagai anak hasil perceraian, On Jung Sung dituntut dewasa sebelum waktunya dan sangat mandiri. Bermula kerja di sebuah restoran, on jung sun akhirnya bisa membuka restoran sendiri dengan nama "Good Soup". 
Yang Se Jong sebagai On Jung Sun

On Jung Sung dan Lee Hyun Soon jatuh cinta yang berawal dari pertemuan mereka di klub lari. Si on jung sung jatuh cinta ke Lee Hyun soon hanya dalam waktu pertemuan mereka selama 5 jam. Hyun Soon yang udah umur 29 tahun dan ditembak brondong pun nolak, bilangnya lagi mo fokus kerja (soalnya di usia 29 baru merintis jadi penulis). Nah dan tiba-tiba Jung Sung menghilang, dan si hyun soon baru sadar klo suka juga sama Jung Sung (standar kan...). Terpisahlah mereka selama 5 tahun... 

Si second lead nya alias barisan sakit hati yang bikin nih drama greget. Park Jung Woo pemilik perusahaan entertaiment, dia yang mengorbitkan si Hyun Soon sehingga tulisan skenarionya bisa di tayangkan. Park Jung Woo diperankan oleh Kim Jae Wook (psikopat yang main di drama Voice). 
Mr Park Memendam rasa sama Hyun Soon selama 5 tahun... ckckck... bukannya dia gak nembak-nembak... dah sering ditembak tapi dicuekin (kasian deh... pengen nge puk-puk si abang ini jadinya).. Tapi pliz deh bang, masih banyak ikan dilaut... 
Park Jung Woo ini temenan sama si chef on jung sung, bahkan termasuk investor di restoran Good Soup punyanya Jung Sung. Persahabatan mereka ini teruji karena mereka sama-sama suka sama satu perempuan... 
Kim Jae Wook sebagai Park Jung Woo (si barisan sakit hati)
Nah... sampai saya tulis resensi ini, nih drama masih on air. Jadi belum tau akhirnya gimana. Interesting lah nih drama. Mendobrak kebosenan saya terhadap drama pure romance yang biasanya gak saya tuntaskan. Jadi saya masih nunggu nih gimana akhirnya, apakah mengecewakan atau enggak... 

Jujur nih ya, kalo saya jadi si hyun soon, ya saya milih Mr Park lah... haha...kaya dan baik hati, dari pada chef yang ibunya rese dan belom mapan... haha...

Rabu, 04 Oktober 2017

Review Drama Korea: Criminal Minds


Bosan dengan cerita percintaan antara dewa air dengan manusia biasa membuat saya beralih menonton drama korea dengan genre Thriller... 

Namun ternyata saya bosen juga nonton drama ini... hikks... (maunya apa sih)

Drama yang berjudul Criminal Minds terdiri dari 20 episode dengan bintang yang boleh dibilang cukup terkenal. Siapa coba yang gak kenal Lee Joon Gi. 


Lee Joon Gi
Di drama ini Lee Joon Gi berperan sebagai Kim Hyun joon seorang polisi yang kemudian di rekruit menjadi agen NCI (mungkin semacam FBI klo di Amerika). 

Lee Joon Gi sedang naik pamor, apalagi setelah main drama moon lover: scarlet heart ryeo bersama IU yang sudah pernah saya tulis resensinya disini.

Drama ini berkisah tentang kejahatan-kejahatan yang harus dipecahkan oleh team NCI ini. Diantaranya kasus-kasusnya antara lain pembunuhan berantai dan penculikan anak. 

Tapi nya ya, nih drama berkutat ya tentang penyelidikan-penyelidikan kejahatan aja... gak ada kisah lain, apalagi percintaannya... (eh ini yang saya tonton sampai episode 12 ya...) dan ini yang buat saya jemu... Hidup tokohnya tuh kaya di kantor NCI doang ama ditempat penyelidikan aja... haha... demen banget mereka kerja ya... hihi... 

So entahlah... mungkin nih drama gak akan saya tonton sampai tamat. Dan sampai episode 12 ini saya nilai 2,5 dari 5 bintang.

Saya emang suka  film-film thriller sih... tapi gak ya yang berkutat dipenyelidikan aja lah... ada kek cerita keluarganya dan percintaannya... ya jadi begitu deh...

Maaf ya mas Lee Joon Gi, dramamu yang ini saya tidak begitu suka... ^-^

Jumat, 29 September 2017

Resensi Novel: The Girl on Paper by Guillaumme Musso

Well, mungkin untuk ukuran novel yang saya kasih bintang 4, termasuk cukup lama saya membacanya... 3 minggu... 

Karena entah mengapa saya membacanya agak kurang terkoneksi secara batin... biasa aja... saya gak terlalu masuk ke cerita tersebut dan relate terhadap emosi-emosi tokoh di dalamnya. 

Bercerita tentang Tom Boyd yang merupakan penulis terkenal, namun sedang berada pada titik nadir terendahnya. Ditinggalkan kekasihnya yang seorang pianis cantik, Tom terkubur dalam penderitaan. Merasa kesepian, putus asa dan tanpa harapan. Terjebak diantara obat penenang dan kekacauan-kekacauan yang dibuatnya karena rasa frustasi putus cinta.

Dia pun mengalami kebuntuan dalam menulis hingga sulit untuk menulis kembali buku ketiga dari trilogi yang dijanjikan kepada penerbit. Dua bukunya memang telah meledak di pasaran hingga telah memberi inspirasi untuk begitu banyak orang.

Ditengah-tengah keputusasaannya ia menenggak begitu banyak obat penenang, namun terbangun di malam hari saat badai datang, menuruni tangga rumahnya dan melihat seorang wanita tanpa busana berdiri dalam gelap rumahnya.

Wanita itu mengaku bernama Billy salah satu tokoh dalam buku karangan Tom, dan dia terjatuh dari buku akibat salah cetak hingga berhenti di halaman 266 yang berbunyi:


"Kumohon, Jack, jangan pergi seperti ini." Namun, pemuda itu sudah mengenakan mantelnya. Dia membuka pintu, tanpa sekali pun menatap kekasihnya. "Kumohon!" seru gadis itu, jatuh"

Wanita itu membuat perjanjian dengan Tom, untuk dapat dikembalikan ke dunia imajiner tulisan dengan menulis novel ketiga dan sebagai imbalan akan membuat Aurora-mantan kekasih Tom kembali padanya. 

Kesepakatan yang kemudian membuat perjalanan novel ini sangat panjang.... hingga 448 halaman.

Review:

Menurut saya bahasa yang digunakan dalam novel ini sangat baik, ringan dan meski menurut saya alurnya lambat, tidak membuat jemu meski tak juga membuat saya ingin buru-buru menghabiskannya.

Sudut pandang yang tidak fokus menurut saya menjadi penyebab saya tidak terlalu relate terhadap emosi si tokoh utama (Tom Boyd- dimana dibuku ini disebut "aku") namun juga menceritakan kisah Milo dan Carole, serta sepenggal kisah-kisah lain yang memegang buku salah cetak Tom. 

Lalu kenapa saya menyukai buku ini??? 

Justru saya suka dan mulai terenyuh di akhir-akhir novel. Akhir yang cukup masuk akal setelah semua ide yang mengejutkan di awal novel. Akhir yang manis meski bukan yang roman picisan sekali.

Oh iya ada yang mengganjal bagi saya dalam cerita ini... Ketika disebutkan bahwa Tom telah bangkrut, bagaimana dia bisa membiayai pengobatan Billy ya... *well ini sangat mengganggu sekali... haha...  

Jadi menurut saya, buku ini selain cover nya menarik, ceritanya cukup bagus dan bagian favorit saya adalah ending dari buku ini... 

Selasa, 19 September 2017

Review Drama Korea: Bride of the Water God



Nonton drama ini rasa-rasanya gak terlalu greget bagi saya. Berkisah tentang percintaan antara Dewa Air dengan seorang manusia biasa yang berprofesi sebagai Psikiater (gak laku an hampir bangkrut). 

Ha Baek atau si dewa air ini terpaksa harus turun ke bumi untuk mengumpulkan batu dewa yang menjadi persyaratan dia untuk menjadi raja dewa. Selama di bumi inilah dia bertemu Yon So-A, seorang psikiater yang hidup sebatang kara dan sedang kesulitan keuangan. Bahkan klinik prakteknya terancam ditutup karena tidak bisa membayar sewa tempatnya.

Yon So-A didaulat untuk menjadi hamba si dewa air ini, yakni dengan menyiapkan tempat tinggal dan makanan. Mula-mula Yon So A menolak dengan gigih, dan menganggap si dewa air tersebut hanyalah manusia dengan gangguan kejiwaan. 

Namun kesialan-kesialan, dan sebuah kejadian dimana Ha Baek menyelamatkan nyawa Yon So A membuat Yon so a percaya bahwa Ha Baek merupak dewa air, dan mau untuk menjadi pelayan dewa air...

Pada dasarnya, saya memang gak suka cerita-cerita science fiction begini. Namun entah mengapa tertarik menonton. Tapi pada dasarnya saya lebih suka yang berbau misteri, sampai episode ke-10 saya sudah bosennya minta ampun.

Pemeran Ha baek menurut saya biasa aja. Selain ekspresinya yang datar (mungkin dituntut kaya gitu sih, secara seorang dewa bermartabat gitu lho), saya gak menemukan sisi charmingnya... haha... 
Nam Joo-Hyuk sebagai Ha Baek
Pemeran Yon So A adalah shin se-kyung yang menurut saya mirip sama nikita willy...
shin se-kyung yang mirip nikita willy..
Disini juga menurut saya Shin Se-Kyu juga emosinya biasa banget. Bahkan karakternya gak bikin saya simpati. Memang dia berusaha kuat meski hidup sebatang kara. 

Yah, pokoknya nonton drama ini saya gak ada feel aja... cuma nonton dan gak terhanyut. Saat nulis ini saya udah di episode 11, tapi rada-rada males ngelanjutin.... 



Jumat, 08 September 2017

Review: Drama Korea: Ruler: Master of the Mask


Khas nonton drama-drama kerajaan adalah lelah dengan alur cerita yang bagaikan pertumpahan darah tak berkesudahan... haha...

Nah drama ini juga begitu. Saya tertarik nonton hanya karena yang main si Yoo Seung Ho. 


Yoo Seung Ho sebagai Putra mahkota terbuang
Suka sama dia karena mainnya bagus. Apalagi pas dia main Remember-War of the son yang udah pernah saya tulis di sini

Disini dia main juga bagus. Menghayati banget. Bercerita tentang suatu masa dimana si raja hanya menjadi raja boneka dan tunduk pada pyonsoo grup. Pyonso grup sengaja meracuni raja dan ketergantungan dengan penawar yang hanya bisa dihasilkan oleh pyonso grup. Apabila terlambat meminum penawar dalam jangka waktu 7 hari (kalau gak salah) akan mati. Nah begitulah pyonso grup mengendalikan kerajaan.

Si Raja yang pada akhirnya mempunyai pewaris, gak mau anaknya menjadi raja boneka seperti dirinya. itulah kenapa si putra mahkota harus memakai topeng agar tidak dikenali (takut diracuni jg oleh pyonso grup dan selanjutnya ketergantungan obat penawar).

Begitulah intrik dalam istana yang kejam, hingga pada suatu masa si raja dibunuh oleh pyonso grup, si putra mahkota hampir terbunuh juga, tapi bisa melarikan diri.

Cerita drama ini kemudian berputar dimasa sang putra mahkota berusaha merebut tahtanya lagi dengan menghimpun kekuatan dari luar istana untuk mengalahkan si pyonso grup yang sangat semena-mena, hingga rakyat semakin miskin dan tertindas.

Tentu dalam perjuangan itu ada romansa-romansa yang mendekat. Nah si Putra mahkota ini suka dengan seorang wanita anak pejabat setia, namun terbunuh karena melindungi sang putra mahkota. Wanita bernama Han Ge eun itu merupakan wanita kalem peramu obat tapi sangat gigih melawan ketidak adilan. Han Ga eun diperankan oleh si ratu drama korea yakni Kim So Hyun.
Kim So Hyun si ratu drama korea
Salut sama dia, umurnya baru 18 tahun (kelahiran 1999), tapi main udah dibanyak drama korea. saya sampe hapal banget sama dia. Produktif banget ya... Mainnya sih emang bagus dan cantik pula.

Nah selain itu, tentu ada barisan sakit hati kan... nah yang wanitanya tuh Kim Hwa Goon yakni cucu si ketua Pyonso Group.
Ternyata dia tulus banget mencintai si putra mahkota hingga rela berkorban apapun demi dia. Tapi salutnya dia sama sekali gak minta dibalas cintanya... duuuh so sweet banget. 


yoon so-hee sebagai kim hwa goon
Saya jatuh cinta sama karakter dia. Wanita cerdas nan rela berkorban dengan tulus demi sang pujaan hati. Tapi gak juga mengemis-emis cinta... duuh mang masih ada ya yang kaya dia di dunia ini kah... haha

Sementara peran cowonya yang bertepuk sebelah tangan adalah Lee Sun yang dari kecil sudah jatuh cinta sama Han Geu eun. Pada saat dewasa dialah yang sial menjadi pengganti putra mahkota untuk dijadikan raja boneka oleh pyunso grup. 
L sebagai Lee Sun
Ternyata dia adalah member boyband Infinite... okelah wajahnya emang wajah boyband banget sih... haha... mainnya bagus juga sih. Nah karakter disini memang awalnya dia mau berkorban ngelindungin putra mahkota buat pura2 jadi putra mahkota. Eh justru dia jadi diracunin oleh pyunso grup dan malah jadi jahat.

Ya begitulah... konfliknya benar-benar bikin lelah yang nonton... haha... tapi itulah seninya drama korea era2 kerajaan begini. Dan itu kadang bikin rindu "kelelahannya" itu... hehe..

Overall drama ini memberikan pesan-pesan moral yang sangat bagus tentang pimpinan yang hebat tak bersedia mengorbankan satu pun orang setianya... Seorang pimpinan yang hebat akan mencari solusi yang akan menjadi win-win solution. 

Saya beri nilai 3,5 dari 5 bintang untuk drama korea ini.





Review Drama Korea: Women of Dignity


Ok, ini drama korea yang baru-baru ini saya selesaikan. Ceritanya cukup menarik sekali (meski mirip sinetron2 ya... hehe).

Tentang seorang wanita yang anggun dan elegan bernama Wo A jin yang merupakan menantu dari keluarga kaya raya. Hidupnya sangat sempurna dan berkelas. Dia dipercaya mengatur rumah tangga dan keuangan keluarga mertuanya tersebut, hingga suatu waktu masuklah seorang wanita yang melamar menjadi perawat untuk bapak mertuanya (bapak mertuanya memang sedang sakit, yakni sakit stroke). 

Wo A jin sebenarnya menantu dari anak nomor 2. Tapi karena anak-anak si Bapak mertuanya gak ada yang bener, yang paling dipercaya adalah dia.

Hingga ternyata sang perawat yang bernama Park Bo- Ja memiliki ambisi untuk menguasai kekayaan keluarga tersebut. Mula-mula ia memikat hati si bapak mertua wo a jin, dan makin lama menguasai semuanya. 

Pukulan berat juga membuat hidup wo a jin porak-poranda, suaminya mengkhianatinya dan selingkuh dengan teman wo a jin sendiri. 

Dan begitulah kehidupan pahit menghadang Wo A jin. Namun dalam menghadapi kehidupan tersebut Wo A Jin sunggah sangat kuat dan digambarkan memiliki "kelas" yang mengagumkan dalam menyelesaikannya.

Konflik nya sungguh pelik dalam drama korea ini. Meski gak memiliki rating yang bagus, tapi ceritanya sangat kuat.


Pemainnya pun gak yang remeh temeh, yang memerankan Wo A  Jin adalah Kim Hee Seon.



Kenal dong dengan mbak yang ini. Cantik meski sudah umur 40 tahun. sudah melanglang buana di per drama korean, dia yang main Faith sama Lee Min Hoo itu lho... trus main Drama korea Angry mom juga. 

Suka banget dengan dandanan dia di drama ini. Elegan banget. cantik banget memang. Dan karakternya kuat sekali. Pantes lah jadi panutan kalo kita (amit2 degh) menghadapi masalah kaya dia... 

Peran kunci dalam drama ini yang lain adalah Park Bo Ja diperankan oleh Kim Sun A.


Kim Sun A
Wanita ini juga sudah melanglang buana, dia yang main di drama Scent of women sama lee dong wook, trus yang main jadi Kim Sam Soon. 

Digambarkan sebagai wanita yang ambisius karena berlatar belakang dari keluarga miskin dan pernah di penjara. Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Bahkan menggoda si bapak mertua wo a jin yang sebenernya sudah tua. 

Drama korea ini memberikan pesan-pesan penting kekeluargaan. Bagaimana seseorang bisa mengorbankan apa pun untuk sang anak. Bagaimana kekayaan gak berarti kalau anak-anaknya gak didik dengan benar.

Cukup menghibur drama korea ini. Salut dengan Wo A Jin yang gak rakus dengan kekayaan namun berjuang dengan tangguh untuk hak miliknya. Wo A jin juga sangat berkelas menghadapi pengkhianatan suaminya... 

Saya nilai drama ini 3 bintang dari 5. cukup untuk membuat saya cune-in samapai akhir episode.. 

Kamis, 07 September 2017

Fenomena Raisha-Hamish






Ampuuun deh.... Minggu ini semua media sosial dikuasai pasangan itu... Dari instagram sampai youtube isinya mereka.

Per hari ini bahkan mereka ada di trending nomor 2 di youtube (tgl 7 Sep 2017)

Hmmm.... Saya aja yg gak gaul kepo juga....

Ya maklum, yang perempuan cantik dengan pencitraan yang bagus di mata publik... Sebagai penyanyi bertalenta nan anggun dan eksklusif... banyak yang bilang jaim (hehe....) tapi saya pribadi sih ngeliatnya emang kok sepertinya ada aura yang memancar ya... saya yang cewe aja seneng liatnya apalagi cowo.... hoho...

Nah yang laki-laki macho (katanya...). Saya sendiri baru tau nama Hamish Daud pas dia lamaran sama Raisha (haha, gak gaul banget yeee). Dan ternyata si hamish dah terkenal di dunia travelling karena jadi hostnya "My Life My Advanture" bareng Nadine chandrawinata (dan gosipnya Raisa jadi orang ketiga diantara mereka... oh noo, gosip tuh kejam banget ya, untung saya bukan arteees...) dan baru main film Nekad Traveler adaptasi novel trinity: naked traveler (yang mana saya belom nonton tuh... hehe)

So yang saya ingin bahas apa ya... mungkin pernikahannya yang keren banget sih, wedding dream banyak orang, dan lagi maharnya booo 1/2 kg logam mulia (matreee mode on... ). 

Di luar itu semua, saya melihat pancaran saling mengagumi satu sama lain... so sweet menurut saya... jadi mungkin bagi yang belum menikah melihat ini pasti kepengen segera merried deh... hehe... pasti mereka yang pengen segera menikah gak tau bahwa pernikahan tuh gak seindah pestanya Raisha-Hamish... haha...

Dikatakan bahwa pernikahan setengah agama, makanya tentu berat sekali... bahwa setelah menikah mungkin kita akan jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama, dan sama besarnya kita kesal berkali-kali juga dengan orang yang sama... hehe...

Akan banyak badai dalam pernikahan, dari masalah materi, keturunan, hingga masalah remeh temeh lainnya...

Pernikahan menyatukan dua orang yang berbeda... dan dalam rentang panjang pernikahan, gak akan selamanya ketawa ketawa seperti pas pesta pernikahan raisha-hamish... akan ada airmata, kemarahan, bahkan peralatan rumah tangga yg dibanting (hehe)...

Ya pokoknya pada intinya, saya mang mo nulis ini buat melatih kemampuan nulis aja sih.... isinya ya begitu deh... kayanya saya ikutan dalam wabah raisha-hamish... haha....

Moga mereka jadi keluarga sakinah mawadah warahmah.... itu aja sih... karena pernikahan tak seindah pestanya... 


Minggu, 04 Juni 2017

Konigswinter, Germany yang Mempesona



Konigswinter sebenarnya tidak terlalu jauh dari Bonn.. namun terpisahkan oleh sungai Rhain. Dan untuk sampai ke Konigswinter dari Stasiun Bonn HBF hanya sekitar 30 menit saja. 

Dan betapa bagusnya pemandangan di Konigswinter... di sebelah kanan kita bisa melihat sungai rhain dan di sebelah kiri kita bisa lihat bangunan-bangunan antik dan "eropa banget" hehe....



Pokoknya kalau jalan-jalan ke bonn kayanya rugi sekali kalau tidak mampir ke konigswinter... bagus sekali untuk foto-foto alias instagramable.... hehe...

Pada saat saya kesana sore hari pukul 6 sore, matahari terik sekali. Banyak yang duduk-duduk di pinggir sungai Rhain, ada yang bawa anak, bawa pasangan, dan bawa binatang peliharaan. Ada yang hanya duduk-duduk mengobrol dan banyak juga yang berolahraga, baik lari maupun bersepeda... pokoknya bagaikan kota impian di negeri dongeng yang tenang dan damai... andai saya bawa pasangan pasti perfect sekali... hehe
masa kalo kaya gini gak tergoda jalan sih... hehe
Ternyata Konigswinter terkenal dengan kastilnya... untuk ke kastil kita harus naik kereta seperti ke puncak... sebeneranya gak pakai kereta gak apa-apa sih... bisa sebagai olahraga kaya hiking gitu dan bisa memakan waktu 1 jam untuk naik keatasnya... tapi kan  namanya orang Indonesia, ya mending naik kereta lah ya... harga keretanya 10 euro untuk pulang pergi.  Kastilnya sendiri biasa aja... haha... cuma bangunan tinggi doang... sepertinya disana terkenal dengan legenda naganya... cari-cari cerita legenda tersebut di google, kebanyakan pake bahasa jerman, gak ngerti saya...


Dan memang jalananan nya menanjak begitu curam...


kalo pemandangannya begini, gak rugi lah ngedaki dengan menguras tenaga...

Sayang foto castilnya gak ada yg bagus. Nah selain bisa melihat bonn dari atas, ada juga castil lain yang bisa dikunjungi namany schloos Drachenburg. Seperti sebuah sekolah (untuk naga terbangkah?? gak tau deh... soalnya saya gak ada guide jadi gak ngerti tentang legenda-legenda yang ada).
Sayangnya untuk ke dalam sana bayar lagi 7 euro... ih males banget kan... 
Jadi saya gak masuk kedalam, tapi gak rugi kalau bisa lihat pemandangan sebagus ini:







Bagus kan...

Belum bisa move on... malah pengen hijrah ke sana... hehe... di jakarta penuh ke stress-an... tapi kalo tinggal disana kan belum tentu seindah kelihatannya... 

Rabu, 24 Mei 2017

Bonn, Kota Multikultur yang Bersahaja (Part 2)

Setelah mendapat penginapan yang memuaskan, saya juga terkagum-kagum dengan orang-orang disana. 

Saya awalnya sangat paranoid, takut mendapat perlakuan rasis karena saya berhijab... dan ternyata disana bukan hal aneh melihat wanita-wanita berhijab. Daerah bad godensberg tempat saya menginap di Kota Bonn ini banyak orang-orang imigran dari timur tengah. So, saya merasa save untuk jalan sendiri (yang awalnya saya ragu banget). Dan ditambah banyak tempat makan turki yang tentu saja halal. Tapi ya harganya lumayan lah... makanya kalo mukim di sana mending sering-sering masak lah... bangkrut juga kalo jajan melulu. 


Nasi Goreng + Ayam di Zentrum Bonn
Nasi ini gak gitu enak, nasi gorengnya rasa saus tomat dan ayamnya asin banget... hehe beli di Zentrum, di Bonn. Harganya gak tau deh, karena ditraktir... hehe


nasi+ayam turki
Yang ini baru enak, ayamnya besar dan lembut. Nasinya juga rasa nasi goreng yang gak gitu aneh. Belinya di daerah Koln, dekat katedral Koln... harga satu porsi itu 10 euro ya kalo dikali Rp 15 ribu ya 150 ribu lah ya... hehe... (dan makannya tetep dengan abon cabe)...

Jerman ternyata tak se asing yang saya pikirkan setidaknya banyak muslim disana.... Saya sempat tersasar, dan betapa baiknya ketika saya bertanya dengan seorang wanita berjilbab keturunan Irak yang mengantar saya hingga ketujuan, meski cuma naik tangga aja sih... hehe..

Ada beberapa kultur yang bikin saya shock disana... tapi bukan karena shock ngeri, tapi shock karena kagum, diantaranya yang saya ingat:

  1. ketika perlintasan kereta tertutup yang artinya kereta mau datang. Gak pake bunyi apa-apa (kalo di Indonesia kan ting tong-ting tong) dan mobil-mobil berhenti... dan biasanya plannya ketutup lumayan lama, maka si mobil mematikan mesinnya... sunyi sepi deh... amazing... 
  2. Di jerman, anjing besar-besar biasa terlihat dibawa jalan-jalan dan bahkan masuk kereta or busnya... dan tiketnya juga beli lho untuk binatang peliharaan.... 
  3. Pada saat saya ke jerman, magrib baru jam setengah 10 malam, jadi sampai jam 8 malem pun masih terang benderang... eh di samping hotel sebuah keluarga makan malam di kebun... so sweet banget... (padahal di Indonesia juga banyak haha... )
  4. Kalo kita nyebrang di zebra cross, meski gak ada lampu lalu lintas, mobil akan mempersilahkan kita nyebrang dulu lho.... bukannya di klaksonin kaya di sini sambil diteriakin "matanya kemana!!!" haha...
  5. Transportasinya nyaman dan tepat waktu... gak ada macet (orangnya dikit kali ya), pernah kereta bermasalah langsung pindah jalur dan gak gitu lama penyelesaiannya... dan sepenuh-penuhnya kereta disana tetap tertib dan gak rempong kaya di Jakarta...
  6. Air bisa minum langsung dari kran washtafel kamar mandi... awalnya sempet ragu langsung minum, jadi nanya dulu ke owner hotelnya dan dia langsung bilang kalo jerman salah satu negara yg punya air paling bagus... 



Bonn, Kota Multikultur yang Bersahaja (Part 1)

Dimanakah Bonn???

Bonn merupakan nama salah satu kota di jerman. Memang Bonn tidaklah seterkenal Berlin, Munich, atau Frankfurt. Namun Bonn mempunyai sejarah yang tidak bisa dilupakan.
Terletak di tepian sungai Rhein, Bonn sempat menjadi ibukota Jerman Barat sejak tahun 1949 sampai dengan 1990 dan menjadi pusat pemerintahan setelah bersatunya Jerman dari tahun 1990 s.d 1999. 

Pada pertengahan Mei 2017 kemarin, saya berkesempatan untuk mengunjungi Bonn dan tinggal selama 7 malam. Dan kesan saya sangat mendalam (maklum lah norak karena baru sekali ke Eropa... hehe).. 

Karena hanya 7 malam, pandangan-pandangan yang saya jabarkan mengenai kota Bonn mungkin absurd dan gak sesuai dengan pandangan mereka-mereka yang harus tinggal dan mukim disana. Saya kesana untuk menghadiri konferensi perubahan iklim UNFCCC. 

Jadi bagaimana kesan saya?

Saya sangat terkesan dengan kebersahajaan kota ini. Saya menginap di daerah Bad Godensberg.

kalau di peta terletak di sebelah selatan. Dan Alhamdulillah saya mendapat penginapan yang tidak mengecewakan. Saya sangat galau mengenai penginapan ini, awal mula saya membooking sebuah penginapan bernama 
A&S Ferienwohnungen Roonstra├če , meski testimoninya lumayan bagus, ada ganjalan karena saya harus sharing kamar mandi... Harga memang murah sekali, tapi saya berfikir bagi perempuan berhijab dan harus menginap sendirian, bagaimana bisa saya sharing kamar mandi, bahkan dengan kondisi teman-teman penginapan yang saya tidak tahu sama sekali (ditambah tengah malam saya suka terbangun untuk buang air kecil... serem lah... hehe). Hingga detik-detik akhir saya sangat galau sekali, tiap hari saya cek web booking.com dan penginapan yang ada tinggal yang mahal-mahal saja (event UNFCCC mungkin yang membuat hampir semua penginapan di kota bonn penuh semua, maklumlah dari seluruh penjuru dunia hadir, bahkan ada dari negara-negara yang saya belum pernah dengar namanya).

Hingga akhirnya doa saya terkabul, muncul di web hotel yang lokasinya memang saya mau, dan harga meski agak mahal masih reasonable lah.... tanpa buang waktu saya langsung mem-booking. dan saya jatuh cinta dengan penginapan ini. Namanya Villa Flora Hotel. Bisa di cek foto-fotonya di booking.com, karena saya lupa untuk memfotonya. 

Meski penginapannya terletak jauh di dalam komplek perumahan dan sulit mengakses supermarket or tempat makan, namun saya suka sekali lingkungannya. Sangat damai.... Untuk ke stasiun saya harus berjalan kurang lebih 800 meter. But It's ok, karena ngelewatin rumah-rumah bergaya jerman, yang bikin saya pengen ngintip-ngintip ke dalam. 

Penginapannya memang seperti bangunan lama. Awal saya masuk sepertinya kok seram, kaya film-film vampire gitu deh... hehe... tapi ternyata pas di kamar saya merasa homy banget... dan saya gak takut jg kok... Bersih soalnya, dan dapat sarapan pagi yang lumayan sehat seperti roti dan sereal, ada juga sih ham-ham an tapi saya gak mau makan lah karena gak halal. So bagi yang masih bingung cari penginapan di daerah bonn terutama sekitar bad godensberg, silahkan cek melalui booking.com Villa Flora Hotel. Kamarnya cuma sedikit, katanya cuma 9 apa 8 kamar gitu... kayanya sih bekas rumah cuma di re-build jadi penginapan semi hotel gitu... 
Kalo jalannya begini siapa yang gak betah jalan kaki
pengen tinggal disitu kan...
taman kompleknya...





Kamis, 04 Mei 2017

Review Drama Korea: Strong Women Dong Bong Soon



Setelah beberapa drama korea yang saya tonton, drama korea ini yang dapat memikat hati saya... Memang sih saya suka dengan cerita-cerita yang punya kekuatan super. Nah drama ini lucu sekali.
Berkisah tentang Do Bong Soon seorang wanita yang gak terlalu pintar tapi punya kekuatan super (bisa mengangkat mobil, memukul dengan kekuatan super... pokoknya kuat sekali). 

Do bong soon diceritakan mempunyai saudara kembar laki-laki yang normal-normal saja dan pintar. Sementara kekuatan super memang menurun ke setiap anak perempuan di keluarganya. Nenek dan ibunya juga memiliki kekuatan yang sama. Namun kekuatan tersebut akan hilang apabila digunakan untuk hal-hal tidak baik atau melukai orang yang tidak bersalah. Ibu Do Bong Soon salah satu yang kehilangan kekuatannya karena menggunakan kekuatan untuk membully orang dimasa mudanya. 

Hingga pada suatu waktu Do bong soon harus mengeluarkan kekuatannya (dia jarang menggunakan) karena di bully oleh gengster. Beberapa Gengster sampai terluka parah, dan secara tidak sengaja terlihat oleh Direktur Min Hyuk yang merupakan CEO perusahaan game. 

Direktur Min Hyuk sendiri pada saat itu sedang gelisah karena sering mendapat teror bahwa akan dibunuh. Min Hyuk pun mendapat ide untuk mempekerjakan Do Bong Soon sebagai bodyguard-nya. Dan disinilah kisah cinta bermula... 

Cerita drama korea ini cukup kuat. Kental dengan kekeluargaan juga romantismenya... walau romantismenya cukup lebay... tapi gak membuat saya mual... jadi masih dalam batas normal lah...

Saya suka pemeran utama wanitanya Park Bo-Young sebagai Do Bong Soon.



Meski terlihat pendek, namun menurut saya mainnya bagus dan gak berlebihan. Dan saya tuh paling sebel kalau drama korea pemerannya awal-awal jelek eh lama-lama jadi cantik.... nah ini enggak, tetep aja seperti itu, kepribadiannya juga... kadang kan ada yang tadinya ceria di awal-awal eh begitu mengenal cinta jadi "menye-menye", dan ini juga gak berlaku buat do bong soon... 
Oh iya dia pernah main di "Oh My Ghost" dan bagus juga main disana jadi wanita yang kesurupan... hehe

Nah pemeran laki-lakinya walau rada lebay, tapi kepribadiannya cukup menggoda: Park Hyung-Sik sebagai Min Hyuk.



Digambarkan sebagai laki-laki kesepian. Ibunya meninggal dan bapaknya menikah lagi serta punya 3 saudara tiri yang reseh-reseh. Hingga karena gak kuat dengan saudara tiri nya yang nge bully terus, min hyuk pergi dari rumah ketika SMA (kalau gak salah) dan berjuang sendiri sampai bisa mendirikan perusahaan Game yang sukses tanpa bantuan bapaknya (keren banget gak sih...).
 Park Hyun Sik mainnya bagus banget sih... meski pas jatuh cinta rada lebay... hehe... Dia juga sempat main jadi peran pembantu di drakornya Lee min hoo yang judulnya the Heir.


Dan tentu di drama korea gak seru kalo gak ada second lead male nya alias barisan sakit hati... hehe. Dan orang yang kurang beruntung di drakor ini adalah Ji Soo sebagai In Kook Doo


Dia digambarkan sebagai cinta pertamanya Do Bong Soon walau si cowo gak sadar dan bahkan dah punya pacar. Anehnya meski In Kook udah punya pacar, dia selalu mengkhawatirkan Do Bong Soon.... hingga kesadarannya bahwa dia suka sama do bong soon sudah terlambat karena do bong soon dah ditaklukkan oleh min hyuk... (makanya bang jangan kelamaan sadarnya...)

Secara keseluruhan ceritanya bagus... oh iya ada yang kurang menyenangkan sih... cerita tambahannya soal gengster itu kelewat kebanyakan, bikin saya men skip-skip... gak penting banget gitu lho...

Diluar itu bagus, bahkan saya nontonnya pas on going dan emosi dramanya trus menempel sambil nunggu episode lanjutannya (biasanya klo nonton drakor on going kadang saya suka kurang menghayati)... dan hebatnya sampai akhir gak ada yang sampe bikin saya bosen... 

Overall saya kasih bintang 4,5 dari 5 lah untuk drama korea ini... 



Refleksi Kehidupan

Ada kalanya kamu ingin melupakan seberapa tua kamu... Terkadang pula ada kalanya kamu tersadar berapa banyak waktu yang telah kamu lalui dan bingung seberapa tak signifikan pencapaian yang kamu dapat....

Entahlah... terkadang kesemuan itu hanya membuat kamu makin merutuki kehidupan... mengingat apa yang belum berhasil kamu miliki di dunia ini... dan esensi rasa syukur seakan hilang dari ingatanmu...

Jadi mengapa tidak kamu lihat sisi keberhasilan hidupmu hingga detik ini... keberkahan yang dapat kamu nikmati... cinta dan segala sayang yang kamu terima... hingga rasanya kamu akan malu bahwa tak pernah kamu tanyakan layakkah kamu mendapatkannya...

Ketika sesuatu yang kamu pikirkan mengapa tak mudah kamu dapatkan, kenapa tidak kamu ikhlaskan... karena terkadang apa yang belum ditakdirkan untukmu memang hanya akan membuat penat pikiran....

Hidup memang hanya perlu kamu jalankan... jangan pernah merutuki kehidupan... berikan senyuman kepada dunia agar dunia kembali tersenyum padamu...

Semoga umurmu berkah dan kehidupanmu dipenuhi rasa syukur...

*refleksi pertambahan umur... selamat hari lahir untuk saya...


Selasa, 02 Mei 2017

Resensi Buku Silent Wife by A.S.A Harisson



Pengarang: A.S.A Harrison
Pertama Terbit: 2013
Terbit Indonesia: 2017
Penerbit: Noura
Jumlah Halaman: 376

Oke lama saya tidak update... apa yang saya lakukan? sebenarnya banyak sih... saya masih baca buku, walau gak segila baca buku-buku julia quinn yang bridgeston family... tapi ada beberapa buku yang saya rasa sangat menarik.

Salah satu buku yang baru saya selesaikan berjudul "SILENT WIFE".

Sempat saya tunda-tunda membaca buku ini karena jujur covernya menurut saya biasa banget dan kurang menarik... hehe


Tapi ternyata cover itu cocok dengan kekelaman cerita di dalamnya.
Berkisah tentang Jodi seorang psikiater paruh waktu yang tinggal bersama dengan seorang pengusaha properti yang sedang sukses bernama Todd. Mereka telah bersama selama 2o tahun. Meski tidak pernah menikah (Jodi yang tidak mau menikah meski Todd sudah berkali-kali melamarnya, dipengaruhi oleh trauma masa lalu Jodi), orang selalu melihat mereka sebagai pasangan suami istri yang sempurna. Namun kenyataannya hubungan mereka tak sesempurna yang orang lihat. 

Todd lelaki yang suka berselingkuh, meski Jodi tau tetapi selalu berpura-pura tak terjadi apa-apa. Dan Todd selalu kembali ke Jodi setelah nakal bermain-main. Bagi  Todd jodi merupakan rumah tempat kembali.

Hingga sampai suatu waktu Todd terjebak keadaan, karena kenakalannya. Dan sulit untuk kembali ke Jodi.




Sudut pandang cerita di novel ini cukup sederhana dan dapat dinikmati. Berpindah-pindah antar bab diantara Jodi dan Todd... sehingga dapat menyelami kedua karakter tokoh tersebut.

Dibukunya sih ditulis ini novel fiksi pertama dari sang pengarang (namun telah ada beberapa buku non fiksi yang ditulisnya) yang kemudian meninggal di tahun 2013. Namun, menurut saya sebagai karya pertama, emosi dalam buku ini benar-benar bisa saya rasakan. Rasa sedih, sendiri, dan hampa tercermin dari setiap katanya dan membuat saya terenyuh.


Lumayan untuk pengisi long weekend... dan menambah pengetahuan tentang ilmu psikologis manusia karena lumayan banyak dijabarkan dalam buku ini... 4 dari 5 bintang untuk novel ini...